Beranda ARTIKEL Syariat, Tarekat, Haqiqat & Ma’rifat Kesatuan Tak Bisa Terpisahkan

Syariat, Tarekat, Haqiqat & Ma’rifat Kesatuan Tak Bisa Terpisahkan

16

Sering Kita Mendengar Istilah Syariat, Tarekat, Hakikat & Ma’rifat dikalangan umat muslim, cuman sejatinya kita tidak memahami ma’na dari pengertian tersebuat secara mafhum. antara ke 4 Hal tersebut merupakan kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain karena saling berkaitan untuk menuju islam yang Kafah (sempurna).
Secara Devinitif Syariat adalah hukum & aturan, sedangkan Tarekat (jalan ketaqwaan), Hakikat ( kepercayaan sejati untuk mengenal tuhanya), dan Ma’rifat (mengenal Allah dan mencapai maqom dalam tasawuf). secara definisi berarti ke 4 Komponen tersebut merupakan sarana umat islam untuk mendekatkan diri kepada Allah yang maha sempurna.
Antara syariat, tarekat, hakikat & ma’rifat memiliki metode yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan memang harus dimiliki setiap umat islam. kenyataan yang terjadi sekarang ini bahwa syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat berjalan dengan sendiri-sendiri tidak dikaitkan satu sama lain, antara syariat dengan Tarekat misalnya ada sebuah kesenjangan dan perbedaan, bahkan kita melihat masing masing 4 komponen tersebut sudah menjadi organisasi sendiri sendiri yang tidak bisa disatukan berkaitan dalam beribadah, padahal istilah itu merupakan sarana yang bisa dijadikan menjadi satu untuk menuju islam yang kaffah.
Sebuah hukum islam membutuhkan jalan bagaimana hukum tersebut bisa menjadi sumber cara beribadah kepada Allah, setelah memahami jalannya maka kita perlu mempercayai bahwa yang ditetapkan Allah adalah itu benar (membenarkan dalam hati) Setelah itu maka kita sampailah bahwa kita mengenal dan mengetahui Allah yang sejatinya.
Kita hidup dikalangan umat islam yang tidak semuanya memahami tentang 4 komponen tersebut, cuman kita sebagai umat islam harus saling menghargai satu sama lain sebagai bentuk solidaritas islam dan menghargai cara pandang orang dalam beribadah. yang mengetahui kualitas ibadah kita itu hanyalah Allah, Manusia tidak diberi keistimewaaan untuk mengetahui hasil evaluasi dalam beribadah, misalnya Si A melakukan puasa Ramadhan (wajib) apakah diri kita mengetahui bagaimana kualitas puasa yang dia lakukan tentu saja tidak, maka dari itu kita sebatas melakukan ibadah tetapi tidak mengetahui hasil dari ibadah kita, oleh karena itu kita harus saling menghargai antar paham islam yang dimiliki seseorang, jangan saling menyepelekan antara syariat, hakekat, tarikat dan ma’rifat karena 4 komponen ini merupakan kesatuan yang harus kita pahami dan miliki sebagai umat islam.